SEKILAS INFO
: - Tuesday, 13-04-2021
  • 6 bulan yang lalu / Ma’had Bilal Bin Robah merupakan lembaga pendidikan pondok pesantren bermanhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rosulullah Sholallahu’alaihi Wasallam sesuai dengan pemahaman Salafus Shaleh. Ma’had Bilal bin Robah ingin ikut serta untuk mendidik anak bangsa dengan memberikan pelayanan kepada kaum muslimin dari kalangan Yatim dan Dhu’afa secara GRATIS…!  
Ikhlas Dan Niat Yang Lurus Dalam Seluruh Amal Perbuatan

Ditulis Oleh: Abu Ikhsan

Ikhlas Dan Niat Yang Lurus                                                                                                             Dalam Seluruh Amal Perbuatan

Ikhlas adalah amalan hati yang sangat penting dan ia memiliki peranan khusus dalam segala amal perbuatan. Karena itu niat saat awal kita akan melakukan sebuah amal perbuatan harus benar-benar lurus semata-mata hanya mengharapkan keridhoan dari Allah subhanahu Wa Ta’ala.

Di dalam hadist yang diriwayatkan dari Ummar bin Khotthob rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَاالْأعْمَلُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِ امْرِئٍ مَانَوَ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى للَّهِ وَرَسُوْلِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوِامْرَأةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَإِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung)pada niatnya, dan sesunggunya seseorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya(dinilai) karena Allah dan Rosul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya”. (Diriwayatkan oleh dua Imam ahlul hadist: Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrohim bin Al-Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori, dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi, dalam kitab shohih keduanya yang merupakan kitab hadist yang paling shohih)

Dari penjelasan hadist tersebut kita bisa mengambil faidah bahwa niat itu menentukan amalan kita, jika niat kita salah maka sebaik apapun amalan kita, kita tidak akan mendapat apa-apa kecuali hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita niatkan.

Demikian dengan seorang penuntut ilmu, ikhlas dan niat yang lurus adalah perkara yang wajib dimiliki, karena hal itu akan menentukan akhir dari kehidupan kita. Perlu kita perhatikan bahwa dalam beramal itu butuh dua syarat untuk diterimanya sebuah amalan, yaitu: Ikhlas dan ‘Itiba ‘ala Rosulillah sholallahu’alaihi Wasallam (Mengikuti apa-apa yang telah disyariatkan oleh Rosulullah sholallahu’alaihi Wasallam), dua syarat itu mutlak harus dimiliki oleh setiap hamba yang menginginkan amalanya diterima di sisi Allah subhanahu Wa Ta’ala.

Dua syarat tersebut tidak bisa terpisahkan satu dengan yang lainnya, harus terkumpul keduanya dalam setiap amalan yang kita lakukan. Tidak cukup seseorang dengan melakukan amalan yang baik saja, sekalipun amlan yang ia lakukan sesuai dengan yang Rosulullah syari’atkan namun sementra niatnya tidak ikhlas, maka amalanya tersebut akan sia-sia. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairoh rodhiyallahu’anhu di jelaskan:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعْمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَا تَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيْءٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَبِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِيْ النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأَتُ فِيْكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأَتَ الْقرْآنَ لِيَقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلُ وسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلَّهِ، فَأ‍تِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلِ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَ أُلْقِيَ فِي النَّارَ

“Sesungguhnya manusia yang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya: ‘Amalan apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu? Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid’. Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlan yang telah dikatakan(tentang dirimu)’. Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya(tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakan: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu? ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al-Qur’an hanyalah karena Engkau’. Allah berkata: ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim(yang berilmu) dan engkau membaca Al-Qur’an supaya dikatakan seorang qori(pembaca Al-Qur’an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya: ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak pernah meninggalkan shodaqoh dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau’. Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka”. (Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabul Imaroh bab Man Qootala Lir Riya Was Sum’ah Istahaqqonnar VI/47 atau III/1513-1514 No.1905)

Dengan demikian hendaklah kita takut kepada Allah terhadap niat suatu amalan yang kita kerjakan, jangan sampai niat kita rusak dan jauh dari nilai keikhlasan. Tidaklah kita diperintahkan oleh Allah subhanahu Wa Ta’ala dalam mengamalkan agama ini kecuali diperintahkan untuk mengiklaskan ketaatan kepada-Nya. Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَآأُمِرُوْاإلَّا لِيَعْبُدُوْااللَّهَ مُخْلِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (Al-Biyyinah:5)

Dan dalam ayat yang lain Allah subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا

“…….Maka sembahlah Allah dengan penuh keikhlasan.” (Az-zumar:2)

Kemudian setelah kita mengiklaskan dalam setiap niat dan ‘amal perbuatan kita, maka kita juga wajib untuk beramal dengan ‘amalan yang disyari’atkan oleh Allah subhanahu Wa Ta’ala melalui Rosul-Nya sholallahu’alaihi Wasallam. Karena ketika seorang hamba melakukan suatu ‘amalan (amalan agama) tidak sesuai dengan yang disyari’atkan oleh Allah dan Rosul-Nya, maka amalan itu akan tertolak. Dalilnya adalah hadist dari Ummul Mukminin, Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata, Rosulullah sholallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (Agama) kami ini, yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

Yang dimaksud ‘amalan dalam hadist tersebut adalah amalan agama seperti: sholat, zakat, puasa, haji, berqurban, dan yang semisalnya. Adapun ‘amalan dalam perkara ilmu dunia, selagi perkara itu mubah dan tidak terdapat larangan secara khusus, maka kita diperbolehkan untuk berkreasi sesuai dengan perkembangan zaman dan tekhnologi. Contoh, pada zaman Nabi sholallohu ‘alaihi Wasallam ketika mengumandangkan adzan tidak menggunakan speker, karena pada waktu itu belum ada tekhnologi pengeras suara seperti sekarang, maka ketika pada zaman ini kita mengumandangkan adzan menggunakan speker, ini tidak termasuk mengada-ngada dalam perkara agama, karena speker dalam hal ini kedudukannya adalah sebagai sarana untuk mengeraskan suara adzan. Demikian pula seperti pada zaman Nabi sholallahu ‘alaihi Wasallam tidak ada pesawat terbang, dan sekarang ada pesawat terbang, maka bukan termasuk mengada-ngada perkara baru dalam agama ketika kita berangkat haji menggunakan pesawat terbang, kenapa? karena pesawat terbang kedudukannya sebagai alat transportasi untuk pergi ibadah haji dan bukan bagian dari ritual ibadah haji itu sendiri. Semoga masalah ini bisa pembaca fahami.

Inti dari pembahasan pada bab ini, aku ingin mengatakan kepada pembaca dan kawan-kawan penuntut ilmu, jagalah keikhlasan dan niat kita dalam setiap ‘amalan, lebih-lebih ketika kita menuntut ilmu syar’I yang mulia, Jangan sampai sebuah ‘amalan yang mulia tersebut pahalanya rontok karena niat kita yang rusak.

Bila sesekali kadang terbersit dalam hati kita, ingin menjadi manusia terkenal, ingin jadi ustadz yang bisa duduk di hadapan ribuan jama’ah, ingin dihormati banyak orang atau yang semisal itu, maka bersegeralah beristigfar memohon ampun kepada Allah, hempaskan dan lawan angan-angan tersebut dan kembali luruskan niat kita. Takutlah kepada Allah akan niat yang rusak, karena niat yang rusak akan mengantarkan kita pada jurang kehinaan.

Menjaga niat supaya tetap ikhlas adalah ujian yang besar bagi orang ‘alim dan bagi para penuntut ilmu, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Abdullah Sufyan bin Sa’id ats-Tsaury rohimahullohu:

مَا عَا لَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَ مِنْ نِيَّتِي ، إِنَّهَا تَتَقَلَّبَ عَلَيَّ

“Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku, sesungguhnya niat itu berbolak-balik dalam diriku.”

Al-Ustadz Abu Al-Qosim Abdul Karim bin Hawazin Al-Qusyairy rohimallahu dalam risalahnya yang terkenal, ia manyatakan:

اَلْإِخْلَاصُ إِفْرَادُ الْحَقِّ فِيْ الطَّاعَةِ بِالْقَصْدِ، وَهُوَ أَنْ يُرِيْدَ بِطَاعَتِهِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللَّهِ تَعاَلَى دُوْنَ شَيْئٍ آخَرٍ، مِنْ تَصَنَّعٍ لِمَخْلُوْقٍ أَوْ شَيْئٍ سِوَى التَّقَرُّبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

“Ikhlas adalah sengaja dengan mengkhususkan ketaatan kepada Yang Maha Haq dan dengan ketaatannya itu ia berniat mendekatkan diri kepada Allah semata. Tidak ada hal lain , seperti berbuat untuk makhluk, dipuji-puji dikalangan orang yang banyak, menyukai pujian dari makhluk, atau hal apapun selain mendekatkan diri kepada Allah subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudian ia melanjutkan perkataannya:

اَلْإخْلَاصُ تَصْفِيَةُ الْعَقْلِ عَنْ مُلَا حَظَةِ الْمخلُوْقِينَ

“Ikhlas adalah membersihkan akal dari perhatian makhluk.”

Kawan-kawan penuntut ilmu, lihatlah firman Allah subhanahu Wa Ta’ala dan hadist Nabi sholallahu ‘alaihi Wasallam, serta perkataan para ulama tentang ikhlas. Betapa pentingnya ikhlas dalam setiap amalan yang kita lakukan, karena ia merupakan inti dalam agama ini.

Banyaknya amalan, atau hafalan, serta kecerdasan yang dimiliki oleh seorang hamba tidak akan menjadi kebaikkan bagi dirinya tat kala tidak disertai dengan niat yang ikhlas.

Namun perlu diketahui, bahwa keikhlasan bukan berarti meniadakan cita-cita dan harapan bagi seorang penuntut ilmu. Engkau boleh bercita-cita untuk jadi ustadz, engkau boleh punya harapan ingin jadi seorang yang hafal Qur’an, atau engkau ingin jadi seorang ‘alim, itu bukanlah yang terlarang dengan catatan semua itu bukan untuk riya dihadapan makhluk, melainkan semata-mata untuk menegakkan agama Allah. Dengan keilmuan yang kita miliki, maka kita bisa mendakwahkan islam ini kepada manusia, setelah itu jangan pernah kita berharap imbalan darinya dan hanya berharaplah kepada Allah subhanahu Wa Ta’ala.

Riya dan Sum’ah

Ketika kita membahas ikhlas, maka kita tidak akan lepas dari bahasan riya dan sum’ah, karena ia merupakan lawan dari ikhlas, yaitu kesyirikan. Riya dan sum’ah merupakan syirik yang sangat halus dan samar, Rosulullah sholallahu ‘alaihi Wasallam menggambarkan kesamran riya, beliau sholallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu Bakar bertanya, “Wahai Rosulullah, bukankah kesyirikan itu ialah menyembah selain Allah atau berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepada Allah?” maka beliau bersabda: “Bagaiman engkau ini, kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.” (HR. Abu Ya’la Al-Maushili dalam musnadnya, tahqiq Irsya Al-Haq Al-Atsari, cetakan pertama tahun 1408 H, Muassasah Ulum Al-Qur’an, Beirut, hal 1/61-62. Dishohihkan oleh Al-Bani dalam Ashohih Al-Targhib 1/91)

Ia bagai adik dan kakak. Jika riya artinya: ibadah kita ingin dilihat oleh orang lain supaya dapat pujian, sedangkan sum’ah adalah ibadah kita ingin didengar oleh orang lain supaya mendapatkan pujian juga, jadi riya maupun sum’ah tujuan akhirnya adalah sama-sama ingin mendapatkan perhatian dan pujian dari makhluk.

Penyakit riya’ dan sum’ah itu sangat berbahaya, karena akan membakar nilai pahala dari amalan yang kita kerjakan, sekalipun itu amalan yang besar seperti berjihad, menghafal Qur’an dan shodaqoh. Bisa jadi seorang hamba saat di dunia mengamalkan amalan syurga, namun ia masuk ke dalam neraka karena riya’ dan sum’ah tersebut. Dan yang berkaitan dengan ini telah aku sampaikan hadist nya pada halaman sebelumnya.

Bentuk Riya

Berikut ini aku sampaikan beberapa bentuk riya’:

  1. Riya’ yang mencampuri amal dari awal hingga akhir, maka amalanya terhapus. Misal : seseorang yang hendak mengerjakan sholat lalu datang seseorang yang ia kagumi, kemudian ia sholat dengan bagus dan khusyu’ karena ingin dilihat oleh orang tersebut. Riya’ tersebut ada dari awal hingga akhir sholatnya dan ia tidak berusaha untuk menghilangkannya, maka amalanya terhapus.
  2. Riya’ yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah amal dan ia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang. Maka riya’ seperti ini tidak mempengaruhi pahala amalannya. Misal : seseorang yang sholat kemudian muncul riya’ ditengah-tengah sholatnya dan ia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ tersebut tidak mempengaruhi ataupun merusak pahala sholat tersebut.
  3. Riya’ muncul tiba-tiba di tengah-tengah namun dibiarkan terus berlanjut, maka ini adalah syirik asghor dan menghapus amalannya. Namun dalam kondisi ini ulama berselisih pendapat tentang amalan mana yang terhapus, misalnya riya’ dalam sholat: Apakah roka’at yang tercampuri riya’ saja yang terhapus atau keseluruhan sholatnya?

Pendapat pertama menyatakan bahwa yang terhapus hanyalah pada amalan yang terkait. Dan pendapat yang kedua ada rincianya sebagai berikut:

  • Kalau amalannya merupakan satu rangkaian dan tidak mungkin dipisahkan satu dengan yang lainnya, misalnya sholat dzuhur 4 roka’at, maka terhapus rangkaian amal tersebut.
  • Kalau amalannya bukan merupakan satu rangkaian, maka amalan yang terhapus pahalanya adalah sebatas yang tercampuri riya’ saja. Misalnya : seseorang yang bersedekah kepada 10 orang anak yatim, saat bersedekah pada anak kesatu sampai anak yang kelima ia ikhlas. Akan tetapi tiba-tiba riya’ muncul saat ia bersedekah pada anak keenam, maka pahala yang terhapus adalah sedekah pada anak yang keenam.

 

 

Kiat-kiat Mengobati Penyakit Riya’ dan Sum’ah

Setiap hamba tidak akan pernah lepas dari kesalahan, namun sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang segera bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang pernah dilakukannya.

Rosulullah sholallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّا ئِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Seluruh anak adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang berataubat.” (HR. Ibnu Majah No.4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Maka bila diketahui bahwa riya’ itu dapat menggugurkan pahala amal sekaligus merusaknya dan dapat mendatangkan kemurkaan Allah, maka kita harus ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjauhinya. Mengobati penyakit riya’ terdiri dari ilmu dan amal. Rasanya memang pahit bagaikan empedu, tetapi hasilnya lebih manis daripada madu. Obat tersebut ialah:

  1. Mengetahui Tauhid Yang Haq, yang dengannya akan mengenal keagungan dan kebesaran Allah subhanahu Wa Ta’ala, mempelajari asma dan sifat-sifat Allah dan hal itu akan membersihkan hati yang lemah. Apabila seorang hamba mengetahui bahwa Allah saja yang dapat memberikan manfaat dan madhorot, maka ia akan menghilangkan rasa takut kepada makhluk. Setan memang selalu menghiasi ibadahnya di hadapan mereka dan menjadikannya takut dicela dan ingin disanjung. Demikian pula apabila ia mengetahui bahwa Allah As-sami’ (Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Maha Melihat), Dia Allah mengetahui mana yang khianat, yang tersembunyi di dalam dada, maka ia akan mencampakan semua pandangan makhluk. Dia akan ta’at kepada Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan Allah pasti akan melihatnya. Dengan demikian, riya’ ini akan lenyap dari dirinya.

 

  1. Mengetahui Dan Mengimani Apa Yang Allah Sediakan Di Akhirat berupa kenikmatan yang abadi dan adzab yang pedih. Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

قُلْ إِنَّمَآ اَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَىى اِلَيَّ اَنَّمَا اِلَهُكُمْ اِلَهٌ وَّاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا

 

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Robb kamu itu adalah Robb Yang Maha Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Robb-nya.” (Al-Kahfi:110)

 

Apabila seorang hamba memahami apa yang Allah sediakan bagi orang yang bertaqwa di surga, maka dia akan meremehkankelezatan di dunia yang sementara ini. Termasuk di dalamnya pujian dan sanjungan manusia. Dan apabila seorang hamba mengetahui apa yang Allah sediakan bagi orang yang berlaku riya’ di neraka, maka ia akan berlindung  kepada Allah dan tidak takut celaan makhluk. Orang yang ia perlihatkan amalnya, tidak akan mampu menolong sesuatu yang datang dari Allah pada hari kiamat.

 

  1. Hendaklah Takut Terhadap Perbuatan Riya’, bila seseorang merasa takut dengan perbuatan ini, ia akan selalu berhati-hati. Bila bergejolak penyakit ingin dipuji dan disanjung, ia akan mengingatkan dirinya tentang bahaya riya’ dan kemurkaan Allah yang akan ia peroleh. Hendaklah ia senantiasa mempelajari pintu masuk serta halusnya riya’, sehingga ia benar-benar selamat darinya.

 

  1. Menjauhkan Diri Dari Celaan Dan Murka Allah. Diantara sebab-sebab riya’ adalah takut terhadap celaan manusia. Tetapi orang yang berakal akan mengetahui, bahwa takut terhadap celaan atau murka Allah adalah lebih utama. Hendaklah ia mengetahui, bahwa takut terhadap celaan Allah adalah dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah akan melindunginya dari manusia-manusia yang tidak dapat memberikan manfaat kepadanya.

 

  1. Memahami Kedudukan Sebagai Hamba Allah. hendaklah seseorang mengetahui dengan yakin, bahwa dirinya seorang hamba yang tidak berhak menuntut upah dalam beribadah kepada Allah. dia mentauhidkan Allah karena merupakan tuntutan ibadah, sehingga ia tidak berhak menuntut hak. Adapun pahala yang ia peroleh dari Allah adalah merupakan perbuatan ihsan (baik) kepada-Nya. Maka, ia hanya berharap pahala dari Allah, bukan dari manusia. Yang berhak memberikan pahala hanya Allah. karena itu, seorang hamba wajib beribadah hanya kepada Allah.

 

  1. Mengetahui Hal-Hal Yang Dapat Membuat Setan Lari. Syaithan adalah musuh manusia, Dia merupakan sumber riya’ , bibit dari segala bencana. Setan selalu ada pada setiap waktu, dalam semua kehidupan manusia, dan senantiasa mengirimkan pasukannya untuk menghancurkan banteng pertahanan manusia. Dia menghasung pasukannya yang terdiri dari pasukan berkuda dan berjalan kaki. Dia selalu memberikan angan-angan, menjanjikan segala sesuatu. Namun sebenarnya apa yang dijanjikan oleh syaithon, semuanya hanya tipuan belaka. Dia menghiasi perbuatan yang munkar menjadi seolah-olah perbuatan baik. Hakikat ini harus diketahui oleh setiap muslim, agar ia selamat dari riya’. Dan juga harus menjaga beberapa hal yang dapat mengalahkan syaithon.

Ada beberapa amalan dari Rosululloh sholallahu ‘alaihi Wasallam, yang apabila diamalkan maka syaithon akan lari. Diantaranya adalah dzikir kepada Allah dengan dzikir yang disyari’atkan, membaca Al-Qur’an, membaca isti’adzah, membaca basmallah ketika masuk dan keluar rumah, membaca do’a ketika masuk dan keluar WC, membaca do’a ketika mau bersetubuh. Syaithon juga lari ketika mendengar suara Adzan, dibacakan surat Al-Baqoroh, ayat kursi, sujud tilawah, dibacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas atau yang lainnya dari ayat-ayat Al-Qur’an.

 

  1. Menyembunyikan ‘Amal. Orang yang ikhlas akan senantiasa takut pada riya’. Oleh karena itu ia akan bersengguh-sungguh melawan tipu daya manusia dan memalingkan pandangan mereka agar tidak memperlihatkan amal-amal sholihnya. Dia akan berusaha keras menyembunyikan ‘amalnya, dan agar hanya Allah yang akan membalas semua ‘amalnya. Memang hal ini mungkin pada awalnya berat, tetapi jika terus berupaya dan bersabar, Allah pasti akan menolongnya.

Rosulullah sholallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

 

إِنَّ الله َ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْخَفِيَّ

 

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang taqwa, yang selalu merasa cukup dan yang merahasiakan (ibadahnya)”. (HR. Muslim No.2965, dan Al-Baghowi XV/21-22 No.4228 dari Sa’ad bin Abi Waqos)

 

  1. Tidak Peduli Dengan Celaan Dan Pujian Manusia. Banyak yang binasa karena takut celaan manusia, senang dipuji, hingga tindak-tanduknya menuruti keridhoan manusia, mengharapkan pujian dan takut celaan mereka. Padahal yang seharusnya diperhatikan adalah, hendaknya kita bergembira dengan keutamaan dan rohmat dari Allah, bukan dengan pujian manusia.

Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْ يَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad). Dengan karunia Allah dan rohmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira, itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus:58)

 

Demikian pula kita harus melihat orang yang mencela dan memfitnah kita. Apabila ia benar dan memang untuk menasihati kita, maka kita tidak perlu marah. Kita bersyukur dia telah menunjuki aib kita dan mengingatkan kita dari kesalahan-kesalahan  yang kita lakukan. Seandainya ia berbohong kepada kita dan mengada-ada terhadap kesalahan tersebut dan mencelanya, maka kita harus berfikir sebagai berikut:

 

“Jika kita bersih dari kesalahan itu, maka kita tidak lepas dari aib atau kesalahan yanglain. Karena sesungguhnya manusia banyak berbuat salah dan banyak sekali aib kita yang Allah tutupi. Ingatlah nikmat Allah, karena si pencela tidak mengetahui aib yang lain dan tolaklah dengan cara yang baik.

Sesungguhnya membuat-buat berita untuk mencela kita dan memfitnah, jika kita sabar dan mengharapkan pahala dari Allah, maka semua ini adalah penghapus dosa kita. Orang yang mencela dan memfitnah kita akan mendapatkan kemurkaan dari Allah subhanahu Wa Ta’ala.

Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيْئَةً اَوْاِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيْئًآ فَقَدِاحْتَمَلَ بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

 

“Dan barangsiapa berbuat kesalahan atau dosa, kemudian dia tuduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sungguh dia telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata”. (An-Nisaa:112)

 

Kita harus berusaha untuk memaafkannya, karena Allah subhanahu Wa Ta’ala cinta kepada  orang-orang yang suka memaafkan. Seorang muslim harus ingat, bahwa tidak ada artinya pujian dari manusia, bila hal itu menimbulkan kemurkaan Allah. Pujian mereka pula tidak membuat membat kita kaya atau panjang umur. Begitu pula celaan mereka ketika kita meninggalkan sesuatu, celaan mereka tidak membuat kita berada dalam bahaya dan tidak pula memendekkan umur, serta tidak menangguhkan rezeki. Semua manusia adalah lemah, tidak berkuasa terhadap manfaat dan madhorot dirinya, tidak berkuasa terhadap hidup dan matinya. Jika ia menyadari hal itu, tentu dia akan melepaskan kesenagannya pada riya’. Lalu menghadap Allah dengan hatinya.

Sesungguhnya orang-orang berakal tidak menyukai apa-apa yang berbahaya bagi dirinya dan yang sedikit manfaatnya.

 

  1. Rosulullah sholallohu ‘alaihi Wasallam Mengajarkan Kepada Kita Do’a Supaya terhindar Dari Perbuatan Syirik Besar Dan Kecil (Riya’).

Dari Abu Ali, seorang yang berasal dari baniKahil, berkata: Abu Musa Al-Asy’ari berkhutbah di hadapan kami seraya berkata: “Wahai sekalian manusia takutlah kalian kepada syirik ini, karena ia lebih halus daripada rayapan semut”. Kemudian Abdullah bin Hazan dan Qois bin Al-Mudhorib mendatangi Abu Musa seraya berkata: “Demi Allah, engkau harus menguraikan apa yang engkau katakan atau kami akan mendatangi Umar, baik kami diizinkan atau tidak”, lalu Abu Musa berkata: “Kalau begitu, aku akan menguraikan apa yang aku katakana”. Pada suatu hari Rosulullah sholallahu ‘alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan kami seraya bersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah pada syirik ini, karena ia lebih halus dari rayapan semut”. Kemudia orang yang dikehendaki Allah bertanya kepada beliau sholallahu ‘alaihi Wasallam: “Bagaiman kami bias menghindarinya, sedangkan ia lebih halus dari rayapan semut, ya Rosulullah? Beliau sholallahu ‘alaihi Wasallam menjawab: Ucapkanlah

 

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari apa yang kami tidak ketahui”. (HR. Ahmad IV/403, dan At-Tabroni, isnad dan perawi-perawinya tsiqoh (terpercaya) selain Abi Ali, karena sesungguhnya ia tidak dianggap tsiqoh, kecuali oleh Ibnu Hibban. Hadist ini hasan, lihat shohih Targhib Wat-Tarhib No.36)

 

  1. Berteman Dengan Orang-Orang Ikhlas, Sholih Dan Bertaqwa.

Di antara faktor yang dapat mendorong untuk berbuat ikhlas ialah berteman dengan orang-orang ikhlas, agar kita dapat mengikuti jejak dan tingkah laku mereka yang baik. Dan kita harus waspada kepada orang-orang yang riya’, yang akan membawa kepada kebinasaan.

 

Demikian pembahasan pada bab ini, semoga kita bisa terhindar dari penyakit riya’ dan sum’ah. Kita memohon kepada Allah, semoga kita menjadi orang-orang yang ikhlas dalam setiap ‘amal.

1 komentar

Muhammad Rosadi, Tuesday, 17 Nov 2020

barakallahu fikum…semoga Allah mencerahkan orang2 yang menyampaikan ilmu

Reply

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

Wakaf Buku

Jadwal Pelajaran Harian

Investasi Akhirat

September 2020
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Lokasi Maps