SEKILAS INFO
: - Rabu, 08-12-2021
  • 6 bulan yang lalu / Pembangunan masjid saat ini terhenti karena kekurangan dana. Sedangkan kebutuhan akan masjid tersebut sangat mendesak. Oleh karena itu sudilah kiranya para sahabat untuk bersama-sama peduli dengan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid ini. Silahkan salurkan infaq terbaiknya ke rek BRI 0100-01-018310-53-2 An.Mahad Bilal Bin Robah Atau antum bisa datang langsung ke lokasi pembangunan di Disun Babakan...
  • 1 tahun yang lalu / Ma’had Bilal Bin Robah merupakan lembaga pendidikan pondok pesantren bermanhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rosulullah Sholallahu’alaihi Wasallam sesuai dengan pemahaman Salafus Shaleh. Ma’had Bilal bin Robah ingin ikut serta untuk mendidik anak bangsa dengan memberikan pelayanan kepada kaum muslimin dari kalangan Yatim dan Dhu’afa secara GRATIS…!  
Hati dan Pembagiannya

Hati dan Pembagiannya

Ditulis Oleh: Mahmud Sidik Abu Ikhsan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung-jawabannya.” (Al-Bayyinah:5)

Hati ibarat raja yang mengatur seluruh pasukan bagi seluruh anggota tubuh. Tindakan yang dilakukan seluruh anggota tubuh berasal dari perintahnya. Hati mempergunakan mereka sekehendaknya. Mereka berada di bawah perbudakan dan kekuasaannya. Istiqomah dan penyimpangannya mereka ditentukan olehnya. Mereka mengikuti ketetapan serta keputusannya.

Itulah alasan kenapa Nabi Sholallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging yang jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hati adalahb raja bagi tubuh. Seluruh anggota tubuh melaksanakan perintahnya dan menerima petunjuk yang disampaikannya. Tidak ada satupun amalan anggota tubuh yang terlaksana tanpa adanya maksud dan niat hati. Hati bertanggung jawab terhadap seluruh anggota tubuh, karena setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap semua yang ia pimpin.

Untuk itu, perhatian untuk mengoreksi dan meluruskan hati lebih utama untuk dijadikan pijakan bagi para peniti jalan akhirat. Memperhatikan  dan mengobati segala penyakit hati adalah hal paling penting yang dilakukan para ahli ibadah.

Macam-macam Hati

Hati bisa hidup dan mati. Maka para ulama membagi hati itu menjadi tiga kategori, yaitu:

1.Hati Sehat atau hati yang selamat

Manusia tidak akan selamat pada hari kiamat kecuali membawa hati ini ketika datang menghadap Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (٨٩)

“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (As-Syu’ara’: 88-89).

Definisi lain menyebutkan bahwa hati sehat adalah hati yang terhindar dari segala syahwat yang menlanggar perintah dan larangan Allah dan dari segala syubhat yang menghalangi kebaikan hati itu sendiri. Hati ini terhindar dari beribadah selain kepada Allah, tidak menjadikan hakim untuk memutuskan setiap perkara selain Rosul-Nya.

Ibadahnya murni untuk Allah semata, baik terkait kehendak, cinta, tawakkal, tobat, ketaatan, rasa takut maupun harapan. Seluruh amal murni untuk Allah semata. Jika ia mencintai, ia mencintai karena Allah. Jika ia membenci, ia membenci karena Allah. Saat memberi, ia memberi karena Allah. Saat menahan pemberian, ia menahannya karena Allah.

Selain itu, hati ini terlepas dari sikap tunduk pada setiap pihak yang memusuhi Allah dan Rosul-Nya. Pemiliknya mengikatnya sekuat mungkin untuk hanya meneladani beliau semata dan bukan orang lain, baik dalam hal tutur kata maupun perbuatan. Karenanya, ia  tidak menyelisihi ketentuan beliau dalam keyakinan, perkatan, dan perbuatan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rosul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah maha mendengar, maha mengetahui.” (Al-Hujurot: 1)

2. Hati Yang Mati

Ini adalah kebalikan dari hati sehat atau selamat. Hati yang mati tidak mengenal Robbnya, tidak beribadah kepada-Nya, enggan menjalankan perintah-Nya, serta tidak mencintai dan meridhoi-Nya. Hati ini justru memperturutkan syahwat dan kesenangan diri. Ia tidak peduli meski sikapnya mengundang murka dan amarah Robbnya. Kegembiraannya adalah jika berhasil meraih syahwat dan keinginannya.

Ia menyembah selain Allah. Ia mencintai karena nafsu dan membenci juga karena nafsu. Ia memberi karena nafsu dan menahan pemberian juga berdasarkan nafsu. keinginan dan hawa nafsu adalah prioritas baginya. Keduanya lebih ia sukai daripada ridho Allah.

Hawa nafsu adalah imam bagi hati seperti ini. Syahwat adalah panglimanya, kebodohan adalah pemandunya, dan kelalaian adalah kendaraannya. Pikirannya dipenuhi hasrat untuk mendapatkan segala harta benda dunia. Ia mabuk cinta terhadap keinginan dan cinta sesaat.

Jika pemiliknya diseru menuju Allah dan negeri akhirat dari kejauhan, ia pun enggan mengikuti seruan dan nasihat. Ia lebih suka mengikuti syaithon yang membangkang. Dunia mengendalikan amarah dan kesenangannya. Hawa nafsu membatnya tuli dan buta terhadap apa pun selain kebatilan. Ia pun bergaul dan berteman dengan orang yang memiliki hati serupa. Padahal mereka mengundang penyakit, racun, dan membinasakan.

3. Hati Yang Sakit

Hati ini hidup, namun memiliki penyakit. Hati ini kadang menjadi baik, kadang menjadi buruk. Ia cenderung mengikuti pengaruh yang lebih dominan. Di dalamnya terdapat cinta dan iman kepada Allah, serta ikhlas dan tawakkal kepada-Nya. Namun, di dalamnya juga terdapat cinta syahwat dan ambisi kesenangan, dengki, sombong, dan kagum pada diri sendiri. Padahal, semuanya menyebabkannya binasa  dan celaka.

Hati ini senantiasa bimbang di antara dua penyeru; penyeru menuju Allah, Rosul-Nya, dan negeri akhirat, serta penyeru menuju dunia. Lalu, hati ini pun menyambut yang paling dekat pintunya.

Demikianlah. Hati pertama adalah hati yang hidup, patuh, lembut,  dan sadar. Hati kedua adalah hati yang kering dan mati. Hati ketiga adalah hati yang sakit.  Kadang-kadang ia dekat dengan keselamatan, tapi terkadang lebih dekat dengan kebinasaan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

Pembangunan Masjid dan Pesantren

Wakaf Buku

Jadwal Pelajaran Harian

Oktober 2020
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Lokasi Maps