SEKILAS INFO
: - Saturday, 31-07-2021
  • 1 bulan yang lalu / Pembangunan masjid saat ini terhenti karena kekurangan dana. Sedangkan kebutuhan akan masjid tersebut sangat urgent. Oleh karena itu sudilah kiranya para sahabat untuk bersama-sama peduli dengan menyisihkan sebagian hartanya untuk pembangunan masjid ini. Silahkan salurkan infaq terbaiknya ke rek BRI 0100-01-018310-53-2 An.Mahad Bilal Bin Robah Atau antum bisa datang langsung ke lokasi pembangunan di Disun...
  • 10 bulan yang lalu / Ma’had Bilal Bin Robah merupakan lembaga pendidikan pondok pesantren bermanhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rosulullah Sholallahu’alaihi Wasallam sesuai dengan pemahaman Salafus Shaleh. Ma’had Bilal bin Robah ingin ikut serta untuk mendidik anak bangsa dengan memberikan pelayanan kepada kaum muslimin dari kalangan Yatim dan Dhu’afa secara GRATIS…!  
Bersungguh-Sungguh Dalam Belajar

Bersungguh-sungguh Dalam Belajar

Ditulis Oleh: Abu Ikhsan

Ini adalah termasuk perkara penting bagi siapapun yang mendambakan keberhasilan dalam bidang ilmu. Karena tidaklah ilmu itu bisa kita raih kecuali dengan kesungguhan dalam mempelajarinya. Ilmu syar’I adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung, karena ia  merupakan jalan untuk menuju kepada jannah-Nya.

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallahu’anhu Nabi Sholallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقً إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju jannah.”[HR.Muslim: 2699]

Sesuatu yang mulia, agung dan berharga tidak mungkin bisa kita raih dengan cara santai dan berleha-leha. Untuk meraihnya kita butuh perjuangan, pengorbanan dan jalan panjang yang harus ditempuhnya. Seorang penuntut ilmu yang sungguh-sungguh, ia akan rela mengurangi waktu tidurnya, mengurangi waktu bermainnya, mengurangi waktu istirahatnya, dan mengurangi dari kelezatan-kelezatan makanan dengan cara memperbanyak puasa sunnah.

Para penuntut ilmu di abad ini, harus rela dan berusaha sekuat tenaga supaya tidak terlena dengan tekhnologi seperti Handphone dan internet. Jangan sampai kedua hal tersebut melalaikan kita dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an, hadist-hadist dan mutun dari kitab-kitab para ulama. Gunakanlah handphone sebatas keperluan saja, bahkan saya sarankan, sebaiknya hari-hari para penuntut ilmu tidak boleh membawa handphone. Seandainya terpaksa harus menggunakan handphone, maka cukup diberikan setiap hari libur saja dan itupun dibatasi dan dalam pengawasan.

Ketahuilah bahwa bahaya internet bagi penuntut ilmu syar’I itu ibarat virus yang mematikan, betapa tidak ! seseorang bisa terlena dengannya, ia akan rela menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk mengakses berbagai macam media social dan permainan yang ada di genggaman tangannya, bahkan celakanya ia juga bisa mengakses situs-situs pornography yang akan merusak akal-akal sehat mereka, kemudian mereka menghayal dan membayangkan, kemudian ingin mempraktikannya. Maka terjadilah kerusakan dan kehancuran mental dikalangan remaja.

Hal ini saya katakan bukan berarti saya menganggap bahwa secara keseluruhan internet itu negative, tidak ! internet adalah media untuk kemudahan, internet adalah sebuah kemajuan dalam bidang tekhnologi yang wajib kita syukuri. Yang saya peringatkan tentangnya adalah penggunaannya dalam hal yang negative. Adapun jika engkau menggunakannya untuk hal yang positif, maka hal itu tentu tidak terlarang, missal: untuk mengakses ceramah dan tulisan-tulisan para ulama, untuk belajar sesuatu yang bermanfaat, tentu itu sangat dianjurkan.

Namun yang jadi pertanyaan, “apakah engkau mampu menahan diri untuk tidak mengakses hal yang negative dari internet?”, ini kembali kepada diri kita masing-masing. Oleh karena itu baik buruknya dari akibat mengakses internet, itu bergantung pada penggunaannya. jika digunakan untuk kebaikkan dan tidak melalikan diri, maka internet akan jadi sebab kebaikkan, namun jika internet digunakan untuk hal yang negative dan melalaikan diri, maka internet akan menjadi sebab-sebab keburukan dan kebinasaan.

Kembali pada pembahasan kita tentang kesungguhan dalam menuntut ilmu, Sebagai motivasi maka akan aku bawakan beberapa penjelasan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang keutamaan-keutamaan dalam menuntut ilmu syar’I juga beberapa kisah perjalanan para ulama terdahulu dalam kegigihan mereka ketika ingin mendapatkan ilmu yang agung dan mulia ini.

Ayat-Ayat Yang Menyebutkan Keutamaan Ilmu

Sangat banyak ayat-ayat yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu, namun di sini aku hanya akan membawakan beberapa ayat, dan in syaa Allah itu sudah mencukupi untuk kalian ketahui sebagai motivasi bagi penuntut ilmu.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلمُنَ

“Katakanlah (Wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu) ?” [Az-Zumar: 9]

Ayat tersebut menjelaskan, bahwa orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu itu berbeda. Orang berilmu itu derajatnya lebih tinggi beberapa derajat dari orang yang tidak memiliki ilmu, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِيْنَ ءَا مَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُو تُوالْعِلْمَ دَرَجَتٍ

Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’la dalam ayat lain:

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

Katakanlah (Wahai Muhammad), Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” [Thoha: 114]

Pada ayat tersebut, Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi Wasallam berdo’a kepada Allah untuk ditambahkan ilmu, ini menunjukan bahwa ilmu itu sesuatu yang utama dibandingkan dengan perkara lainnya.

Juga firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَؤُاْ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan hanba-hamba-Nya adalah ulama.” [Fathir: 2])

Pada ayat tersebut Allah menyatakan, bahwa hamba-hambanya yang takut kepada Allah adalah dari kalangan para ulama. Para ulama adalah orang yang memiliki ilmu syar’I, yang menguasai Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi Sholallahu’alaihi Wasallam. Dari sini kita bisa memahami bahwa ilmu bukan sekedar banyaknya hafalan, tapi ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang menyebabkannya seorang hamba memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan merekalah yang layak disebut sebagai ulama.

Hadist-hadist Nabi Sholallahu’alaihi Wasallam Yang Menyebutkan Keutamaan Ilmu

Hadist-hadist yang menyebutkan keutamaan ilmu juga cukup banyak, namun di sini saya sampaikan beberapa hadist saja. Semoga ini bisa memicu semangat dalam meraih keutamaan ilmu.

Dari Mu’awiyah Rodhiyallahu’anhu, ia berkata, Rosulullah Sholallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa yang diinginkan Allah kebaikkan, maka Allah akan memahamkannya dengan agama.” [HR.Bukhori dan Muslim]

Juga dalam Hadist yang lain:

عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ -صلى الله عليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Dari Katsir bin Qois, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.”

(HR. Abu Daud no. 3641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Demikian dua hadist di atas sudah mencukupi sebagai dalil keutamaan bagi orang-orang yang menuntut ilmu syar’i.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

Pembangunan Masjid dan Pesantren

Wakaf Buku

Jadwal Pelajaran Harian

March 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Lokasi Maps